10 Mar 2009

PROSA KETIDAKBENARAN


Gendang ditabuh, lonceng dibunyikan, lampu-lampu dinyalakan dan tirai-tirai panggung disibakkan. Seorang perempuan dengan pakaian yang sungguh seronok menangis, matanya sembab dan air matanya mengalir deras bak sungai menelusuri riasan wajahnya yang tebalnya puluhan senti , Dengan terbata-bata dia khabarkan pada dunia tentang aib-aibnya, tentang pandangan hidupnya yang menafikan akal waras, sesekali dari mulutnya keluar ucapan puji pada sang maha dari eksperesi lahiriah ada aroma ketulusan yang luar biasa.




Sementara di panggung lain, aku melihat seekor kalong menjadi pembicara dalam sebuah forum yang katanya sangat terhormat dan dengan dungu orang-orang yang katanya juga terhormat termangu-mangu mendengarkan pembicaraan si kalong dan tentu saja dalam bahasa kalong yang maknanya sungguh susah dimengerti.




Dan di panggung-panggung yang lain tetap saja aku melihat cerita yang sama dengan metafora yang berbeda. Akh ....Lagi-lagi dan lagi, malam ini aku kembali saksikan kampung ini sedang sakit, tambah sakit dan makin sakit.




Sementara ,


Malam itu Temanku G menemukan kebenaran dan fakta.

Matahari bersinar trang... ya, kebenaran itu seperti matahari, walaupun awan gelap menutupinya namun tidak bisa menghilangkan sebuah fakta bahwa bola besar energi itu tetap menggantung di atas awan, jauh tinggi di langit, menjadi pusat tata surya, bumi ini dan planet-planet lain di bimasakti ini justru berputar mengelilinginya.




Namun , lagi , lagi dan lagi .....


Malam ini aku melihat Ketidakbenaran

Ketika kesalahan berubah menjadi cita-cita, ketika kesalahan berevolusi menjadi puncak-puncak usaha , ketika kesalahan diberi makna baru sebagai seni, kreatifitas, kebebasan berekspresi dan keberbudayaan.




Malam ini aku melihat kesalahan :

Ketika begitu banyak orang dengan lugu dan tanpa ilmu menerobos benteng-benteng tabu.

Ketika dengan sadar orang-orang menaburkan bintik-bintik debu, tetes-tetes noda dan gumpalan-gumpalan kotoran di atas kaca mereka. Dengan bangga mereka mengotori kebeningan hati dan menodai kejernihan nurani.




Malam ini aku melihat Ironi :

Begitu banyaknya orang bodoh menepuk-nepuk dada dan dengan lantang meneriakkan bahwa tidak ada kesalahan yang ada adalah kebebasan.

Dengan benderang aku melihat bahwa mereka adalah pecundang, kalah dan bertekuk lutut dengan kesalahan, seakan-akan kesalahan tersebut adalah kekuatan asing yang berada diluar kendali mereka dan seakan-akan kesalahan itu lebih perkasa dari karunia kehendak yang berada `dalam nurani mereka.




Malam ini aku menyaksikan :

Orang-orang tak suka bicara soal kesalahan sebab ada pertarungan hebat disana. Nurani-nurani mereka menginginkan jalan kebaikan tetapi hawa nafsu mereka yang angkuh menginginkan jalan keburukan dan dengan keras mereka melawan kepolosan dan kejujuran suara hati mereka.




Malam ini aku melihat kebodohan :

Ketika begitu banyaknya orang-orang rapuh dan lemah yang menunda-nunda penyesalan dan menumpuknya menjadi malapetaka yang mengerikan dikemudian hari karena matahari belum berhenti, selalu ada hari baru, umur baru dan itu berarti suatu saat kan datang kesadaran betapa begitu banyak peluang yang mereka telah sia-siakan.




Malam ini aku merenung :

Kadang adakalanya diri ini juga menjadi bagian dari mereka.

17 comments:

G 10 Maret 2009 08:09  

WOOOOOWWWW!!! Dahsyat!

Ternyata kalau dilihat dari berbagai sudut "panggung" yang berbeda begitu kaya laku yang dapat ditangkap! saya terpesona, ternyata saya belum bisa melihat dengan "kekayaan" pemaknaan yang semacam ini, saya hanya memandang dari satu sudut pandang, padahal begitu banyak pemain dan begitu banyak juga peran yang dimainkan, lalu belum lagi atribut2 yang dipakai serta beragam kostumnya.

sebenarnya, kita sedang menyaksikan sebuah tonil, dan secara sadar atau tak sadar, ketika semakin dekat berjalan ke arah panggung tiba-tiba saja menemukan diri menjadi salah satu dari para pemain.

ah! ah! dunia ini memang panggung sandiwara.

as always pak (^_^) Bravo. Keren.

KABASARAN 10 Maret 2009 08:46  

" sebenarnya, kita sedang menyaksikan sebuah tonil, dan secara sadar atau tak sadar, ketika semakin dekat berjalan ke arah panggung tiba-tiba saja menemukan diri menjadi salah satu dari para pemain."
Betul sekali G itulah masalahnya ... " malang tak bisa ditolak untung tak bisa diraih " , barangkali itulah gambaran yang tepat untuk menggambarkan tentang sesuatu yang kita tidak punya pilihan dalam penentuannya ... mau tidak mau , terima tidak terima kenyataannya saat ini kita terdampar di panggung besar ini.
Kita tidak bisa lari dari kenyataan bahwa kita adalah bagian dari pemain dalam drama kolosal kehidupan ini. Paling-paling yang dapat kita lakukan untuk tidak begitu larut hanyut dengan drama menyedihkan ini adalah lari jauh ke dunia dalam yang luasnya tak kalah besar dari panggung luar ini ... he-he-he biarkan orang-orang menyebutku "onani" .

G 10 Maret 2009 08:59  

Wahahahaa... "masturbasi" itu perlu kok, mengisolir diri dari segala yang lain hanya untuk keintiman yg melulu pribadi (aku dan aku) dan soliter, hihi.. daripada melakukan "orgy" ya pak? Wkwkwkwkwk... kalo pake istilah2 seperti ini nanti blog ini bakalan jadi blog R-Rated, hihi...

Mari bersembunyi, mari berlupa.. (^_-)

Atca 10 Maret 2009 09:17  

mampir dulu...belom sempat baca, yang penting dah tinggalin jejak..

Eucalyptus 10 Maret 2009 09:31  

Saya setuju apa yg Gati bilang : "dasyat"...
Dunia ini benar2 panggung sandiwara, tinggal kita memilih mau melakoni apa, ada peran munafik, ada peran jujur, ada peran jahat, ada peran baik.... apapun pilihan peran yg kita jalani, tentunya selalu mendapat pro dan kontra...
Salam kenal, saya tau blog ini dari teman saya, Gati... Maaf klo blog saya sedang ditutup..

fanny 10 Maret 2009 10:04  

pagi ini saya menemukan pelajaran berharga dari blog ini.

brown sugar 10 Maret 2009 10:15  

Mata hanya bisa memandang...otak hanya bisa berpikir...mulut hanya bisa mengucap...jari hanya bisa bergerak...kaki hanya bisa melangkah......semua bisa seirama dan sejalan menghasilkan karya yang maha dasyat....begitu pula kehidupan...semua mempunyai makna sesuai dengan porsinya...manusia hanya mampu berperan dan memerankan perannya.....(like a puppet in the string )

Nyambung ga sih?.....kekekeke.....ga nyambung gw sambungin sendiri ajah...

anna fardiana 10 Maret 2009 10:35  

seperti lagunya God Bless
"...dunia ini, panggung sandiwara..."

dan kita bagian dari aktor-aktris di panggung itu...

J O N K 10 Maret 2009 10:41  

woow, mas Kebasaran dan Mba G memang pasangan yang dahsyat .. :)

Kristina Dian Safitry 10 Maret 2009 11:11  

dunia ini panggung sandiwara. ceritanya mudah berubah..*jreng!jreeng...sambil petik gitar,hi..hi..*

aranam 10 Maret 2009 11:22  

Sekarang ini yang tunggang terbalik itulah yang diterima pakai oleh ramai orang. Kenapa begitu? Menutup mata pada kebenaran dan menjulang kebatilan, semakin ramai memilih sedemikian...entah sedar entah tidak.

Linda Belle 10 Maret 2009 12:26  

yep spt kata jonk, mas kabasaran + G kalo disatuin tulisannya membuat gw oot bangedd hahahaha.....

Nyante Aza Lae 10 Maret 2009 13:09  

dari sebuah "panggung" itu
siapa kira-kira yang beruntung?
Siapa pula yg hanya meraih buntung?

ajeng 10 Maret 2009 13:59  

Kalau dunia ini panggung sandiwara, berarti pean kita bisa berubah-ubah dunk? Hari inin jadi orang baik, besuk jadi orang jahat? Waaa...

Elsa 11 Maret 2009 11:52  

waaaaaaaaaaaaaaaaaaah
lagi-lagi aku harus angkat topi nih buat Pak Kabasaran dan Mbak G....
gilaaa...isinya berat, bahasanya indah...

henny suhardja 11 Maret 2009 17:35  

ini lagi speechless for a moment... secara gak tau harus berucap apa ....

soal panggung sandiwara... memang benar adanya .... dan sayangnya banyak manusia yang mau main sebagai yang penting dalam lakonnya ... biar penuh nista ... dosa ... cerca dan siksa neraka nantinya ....

Buat karyanya .... aku betul angkat kedua jempolku dengan mulut ternganga saking takjub akan indahnya karya anda ....
betul ... kayaknya aku harus pinjam 100 jempol tetangga supaya ungkapan takjubku bisa jelas terekspresi .... hehehehe

goresan pena 12 Maret 2009 17:51  

terkadang kita melihat dengan mata yang tertempel di kepala...seperti membaca buku...sesuatu yang tampak bermakna sedangkal tinta yang mempel di atas kertas...lantas...mengapa sibuk benar kita saat sesuatu yang tak biasa itu terungkap? mengapa kita seperti bergelinjangan diatan sebuah ketidakbenaran?

terkadang, kita bisa demikian menjadi bijak tatkala hanya berada pada kursi penonton...saat kita benar-benar di panggung dan di sorot lampu berbagai penjuru, kita hanya gemetar, lupa naskah...
dan...
hahahahahahhahahahhaha...
sang penonton pun tertawa...

aha...siapa kita??/
siapa kita???

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP