14 Des 2009

Daku Dikau dan Dongkol ...

Daku pernah mengunjungi seorang teman yang tinggal di pantai barat Sumatera. Disana ada suatu kolaborasi yang menarik antara macacus nemestrinus alias beruk ( kera besar berekor pendek ) dengan manusia. Beruk-beruk dipelihara dan diajari cara memetik buah kelapa, biasanya butuh waktu cukup lama untuk mengajari sang beruk mulai dari cara memanjat, memilah-milah buah yang sudah layak dipetik dan mengenali instruksi tuannya ( induk semang ).

Teknik mengajari beruk untuk melakukan hal-hal yang diperintahkan tuannya tentu saja jauh berbeda dengan teknik mengajari manusia.
Beruk –beruk dirantai leher atau perutnya, diperintahkan naik ke atas pohon kelapa. Setiap berhenti sebelum sampai dipuncak, rantainya ditarik sehingga sang beruk akan merasa kesakitan … begitulah seterusnya sampai dia mengerti bahwa dia tidak akan disakiti kalau terus memanjat.
Tahap berikutnya si beruk diperintahkan untuk menjatuhkan buah kelapa dan lagi-lagi jika sang beruk salah memetik maka sang induk semang akan menyentakkan kembali rantainya sehingga si beruk kesakitan. Melalui proses panjang dan sangat melelahkan itu akhirnya si beruk mengerti bahwa ia tidak akan disakiti kalau yang dipetiknya adalah kelapa yang sesuai dengan instruksi sang tuan.

Selanjutnya setelah mengerti si beruk mulai dipekerjakan. Setiap hari ia dan induk semang berjalan berduaan keliling kampung untuk menawarkan jasa memetik buah kelapa. Makan dan tempat tinggalnya disediakan tuannya. Sepintas kelihatan bahwa hubungan mereka tampak begitu manisnya, mutual simbiosis.

Apakah sejatinya demikian ?.
Ternyata tidak.
Kalau diamati dengan cermat ada suatu perilaku yang lucu dan aneh dari sang beruk.
Setiap kali tuannya ( induk semang ) memalingkan muka darinya maka si beruk akan menyeringai atau mencibir dengan membuka mulut lebar-lebar sambil mempertontonkan gigi-gigi tajamnya, tidak jarang perilaku ini juga dilakukannya terhadap orang-orang di sekitar induk semangnya. Tampaknya si beruk begitu kesal dan tersiksa dengan kondisi yang ia alami namun ia tidak mampu berbuat apa-apa. Yang bisa dilakukannya hanyalah mendongkol dan itupun ia lakukan secara diam-diam dari belakang.

Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh sang beruk tetapi tanpa sadar dalam bentuk dan ekspresi yang berbeda sebenamya apa yang dilakukan si beruk boleh jadi sama dengan apa yang tengah kita lakukan.

Sering kali kita merasa dongkol, jengkel dan lelah menghadapi seseorang …entah itu atasan, pasangan hidup, kawan atau siapapun namun kita tidak berani mengungkapkannya.
Kita pendam dalam-dalam semua rasa dongkol, jengkel dan lelah tersebut sehingga menumpuk menjadi bangunan kesal dan dendam di hati.
Didepan kita bermuka manis seolah-olah tidak ada masalah namun dibelakang kita meledak-ledak … entah itu dengan cara menumpahkan emosi dengan cara mencari sasaran lain yang tidak ada hubungannya dengan kedongkolan kita atau mengomel serta mempergunjingkan sipembuat kedongkolan tersebut.

Barang kali sudah saatnya kita belajar melawan rasa takut untuk mengungkapkan perasaan kepada siapapun. Bisa jadi seseorang tidak sadar kalau hal yang dilakukannya ternyata telah menyakiti kita dan seandainya hal ini yang terjadi maka dengan mendiamkannya, bukankah kita sama saja telah membiarkan seseorang melakukan kesalahan berulang.
Andaikata rasa takut masih menahan langkah kita untuk berterus terang, Barang kali sudah saatnya belajar untuk memperbanyak kata maaf dalam gudang penyimpanan kata-kata kita.

Read more...

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP